Produk Organik Terbaik" alt="MilyunerClub" />

PUYER, MENGAPA HARUS JADI KONTROVERSI ?

By Fauzan Humaidi S.Si Apt | Feb 20, 2009

Tulisan ini dibuat untuk menanggapi berita dari berbagai media yang bisa jadi akan membingungkan. Kami harap setelah membaca tulisan ini Anda bisa memutuskan apakah puyer berbahaya atau tidak.

Puyer adalah obat atau campuran obat yang dihaluskan/digerus dalam sebuah wadah yang disebut mortir, dibagi dan dibungkus dengan kertas (perkamen). Di masyarakat mungkin ada anggapan bahwa obat dalam bentuk puyer lebih bagus daripada obat dalam bentuk tablet/kaplet/kapsul. Anggapan seperti itu kurang tepat, yang lebih tepat adalah obat dalam bentuk puyer lebih cepat diserap sehingga obat lebih cepat memberikan efek daripada obat dalam bentuk tablet/kaplet/kapsul.

Ada beberapa alasan mengapa obat diberikan dalam bentuk puyer antara lain :

1. Untuk pasien tidak bisa/kesulitan menelan obat dalam bentuk tablet/kapsul
2. Obat yang dibutuhkan tidak tersedia dalam bentuk cairan
3. Pasien anak (jika obatnya >1 tablet sehingga mudah diminum).
4. Dosis bisa disesuaikan dengan kebutuhan pasien.

Tetapi tidak semua obat dapat dibuat puyer, antara lain obat dalam bentuk tablet/kapsul lepas lambat yang dibuat agar pecah dan menimbulkan efek dibagian saluran pencernaan tertentu atau obat yang jika pecah dilambung dapat mengganggu pasien atau mengurangi khasiat obat tersebut.
Sebenarnya yang menjadi kontroversi itu bentuk sediaan puyer atau polifarmasi ?
Kalau puyer sih selama ini gak ada apa-apa, belum ada data yangg menyatakan puyer berbahaya.

Berikut beberapa hal yang bisa dijadikan pertimbangan untuk memilih atau menolak bentuk puyer.

1. Di apotek puyer dibagi dengan mata? Ya, jarang apotek yang menimbang obat untuk membagi obat -tapi ada-. Tetapi dengan membuat puyer itu berbentuk kerucut berat puyer akan relatif sama. kalau gak percaya ambil serbuk apa aja(bentuknya =puyer) terus bagi dengan cara dialirkan dari atas dengan ketinggiaan yang sama.

2. Apakah puyer bisa mengubah stabilitas obat? Ya, pada sebagian obat. Sebagian obat tidak tahan uap air/higroskopis.Tapi untuk puyer yang cuma 10 bungkus akan habis dalam 3 hari, tentu masih harus ada penelitian apakah khasiat obat akan berubah. Akan jadi masalah jika puyer 120 bungkus untuk 1 bulan. Apotek Kimia Farma (saya bukan pegawai KF ya) memberi solusi yang baik untuk hal tersebut dengan cara kertas perkamen untuk bungkus puyer disegel sehingga tertutup rapat dan relatif terhindar dari uap air, jadi untuk dipakai puyer tersebut harus dirobek.

3. Apakah obat dalam puyer tercampur sempurna? Jika semua obat yg dibagi berwarna putih semua farmasis akan menambah 1 tablet vitamin B komplek yang berwarna oranye sehingga jika digerus warna puyer bisa dilihat apakah sudah homogen (campur sempurna) atau tidak.

4. Apakah puyer lebih murah dari yang nonpuyer? Belum tentu! Kalau yang diresepkan obat paten atau obat generik bermerek tentu harus dihitung ulang harganya dibanding dengan sirup. Puyer bisa jauh lebih mahal apalagi jika polifarmasi dan obatnya pun mahal-mahal.

5. Apakah puyer bisa terkontaminasi dengan obat lain? Ya, puyer bisa terkontaminasi dengan obat lain. Tetapi di apotek setelah puyer dibuat mortir & stamper di lap dengan kapas yg dibasahi alkohol 95 % yang segera menguap. Jadi relatif bersih untuk dipakai puyer berikutnya. Apoteker/farmasis akan memberi perhatian lebih jika obat yang akan dibuat puyer mempunyai rentang terapi sempit (dalam dosis kecil memberi efek yang besar) misalnya aminopilin, digoxin,dll.

Jadi kalau tidak mau puyer ya bilang dokternya, pasien mempunyai hak untuk memilih bentuk sediaan yang lain. Tapi ingat, dokter memilih bentuk sediaan puyer tentu dengan pertimbangan yang terbaik untuk pasien.

Jika yang menjadi kontroversi polifarmasi (=satu resep terdiri dari banyak obat), polifarmasi bisa terjadi pada semua bentuk sediaan obat tidak terbatas pada bentuk puyer.
Sebagai apoteker tugas kami mengingatkan dokter jika di resep ada dosis yang terlalu rendah/tinggi, tulisan yang tidak terbaca/dimengerti, ada yang ganjil dalam resep, dan sebagainya. Menurut pengalaman saya pernah ada dokter yang meresepkan 1 obat dengan 3 nama paten yang berbeda dalam satu lembar resep. Tentu saja kalau terjadi seperti itu saya akan menelepon dokternya apakah dosis memang dikehendaki seperti itu.

Marilah menjadi konsumen kesehatan yang cerdas, bertanyalah jika tidak mengerti. Dokter, Farmasis/Apoteker, dan petugas kesehatan lain juga seorang manusia yang tidak luput dari lupa, bukanlah TUHAN yang tahu segalanya. Dan jangan lupa selalu belilah obat di apotek yang apotekernya ada di apotek sehingga mudah untuk meminta informasi.

Leave a Comment

If you would like to make a comment, please fill out the form below.

Name (required)

Email (required)

Website

Comments

© 2007 ApotekerOnline.com, - WordPress Themes by DBT